Sejarah Desa Duwet
Asal Usul Desa
Menurut Kitab Nagarakertagama karangan Mpuh Prapanca dalam pupuh 24-31 menyinggung tentang kadipaten PATUKANGAN yang diperkirakan letaknya di kecamatan Panarukan tepatnya di desa Duwet saat sekarang, pada tahun 1359 M raja Majapahit, Hayam Wuruk pernah mengunjungi wilayah tersebut. Kadipaten Patukangan dipimpin oleh seorang adipati yang bernama Suradhikara, wilayah PATUKANGAN sebagaimana disebutkan dalam pupuh tersebut terletak dipinggir pantai yang terbentang dari wilayah barat ke timur dusun Bugur dengan penataan bangunan yang menghadap ke pantai. Setelah sekian tahun kadipaten PATUKANGAN berdiri mengalami masa kejayaannya kemudian mengalami kemunduran akibat dari pemberontakan sehingga mengalami keruntuhan seiring dengan mulai runtuhnya kerajaan Majapahit dan berganti pada peradaban baru yaitu mulai masuknya pengaruh Islam dibawah kesultanan Demak. Bukti bahwa keberadaan kerajaan PATUKANGAN tersebut dengan banyak ditemukan struktur batu bata, fragmen fragmen keramik dan gerabah yang berserakan di areal persawahan di wilayah desa duwet khususnya wilayah dusun Bugur.
Kemudian sisa sisa reruntuhan tersebut tetap ditempati untuk pemukiman penduduk yang yang masih bertahan hingga zaman kolonial Belanda. Selanjutnya pemukiman tersebut terus berkembang menjadi pedukuhan pedukuhan yang dipimpin oleh kepala dukuh hingga terbentuk system Pemerintahan yaitu Desa. Di daerah ini banyaknya tumbuh pohon Duwe’/jawet, pohon yang tumbuh besar dan berdaun lebat yang memiliki buah hitam manis sehingga terkenal keluar daerah., selain buah duwe’ yang terkenal wilayah ini juga sangat subur yang sangat cocok untuk bercocok tanam sehingga banyak penduduk pindah dari luar daerah bahkan banyak pendatang dari pulau madura untuk menetap diwilayah ini. Orang-orang yang berpindah tempat kemudian membuat pedukuhan /perkampungan yang tersebar dibeberapa tempat diwilayah ini dengan dipimpin seorang kepala dukuh yang biasa disebut dengan Kalebun.
Terbukti dengan ditemukannya beberapa Makam Kepala dukuh (Buju’ Kalebun) di beberapa tempat di Duwet yang sampai saat ini masih dipercaya oleh masyarakat sebagai leluhur yang membabat lahan diwilayah ini. Kemudian dalam perkembangannya dimulai sejak Era Kolonial hingga Kemerdekaan, Pedukuhan/Perkampungan yang awalnya dipimpin seorang Kepala dukuh, menghimpun wilayah menjadi Satu dengan nama Desa yaitu Desa Duwet. Kata Duwet sendiri berasal dari kata DUWE’sebagaimana sebutan untuk wilayah yang dulunya banyak tumbuh pohon DUWE’, kemudian Desa Duwet menjadi terkenal dengan dibukanya Wisata Pantai Pathek yang dikunjungi Wisatawan dari Berbagai Kota bahkan Manca Negara.
Sejarah Pemerintahan Desa
Pemerintahan Desa Duwet merupakan satu pemerintahan yang ada sejak masa Penjajahan Kolonial Belanda. Sesuai dengan perkembangan keadaan dan kondisi masyarakat maka wilayah pemerintahan terdiri atas 6 didusun. Pada mulanya dusun-dusun yang ada di Desa Duwet merupakan sebuah desa kecil yang secara de facto dipimpin oleh seorang Kalebun (Kades). Namun pada tahun 1850 secara resmi Dusun-dusun tersebut menggabungkan diri menjadi Desa yang kemudian diberi nama Desa Duwet.
Kepala Desa pertama dipimpin oleh Surogati. Kepemimpinan pertama ini periodenya dimulai dari tahun 1850-1930. Periode ini merupakan yang terlama sepanjang sejarah kepemimpinan di Desa Duwet. Periode berikutnya dipimpin oleh Dipokaryo dengan masa pemerintahan sekitar 30 Tahun.
Dimulai sejak tahun 1930 – 1960. Pada periode ini masyarakat Desa Duwet merasakan kehidupan sejak Pra- Kemerdekaan dan Kemerdekaan atau biasa disebut dengan era Orde Lama dibawah kepemimpinan Presiden Soekarno. Setelah Dipokaryo, Kepemimpinan digantikan oleh Bunarso. Namun tidak berlangsung lama karena Bunarso meninggal Dunia.
Pemerintahannya hanya berumur 2 tahun dimulai sejak tahun 1960-1962. Kemudian di gantikan oleh Sruto sebagai PJ Kepala Desa yang memerintah sejak tahun 1962-1982. Sruto memimpin Desa Duwet cukup lama kurang lebih sekitar 20 tahun. Setelah PJ.
Sruto, kepemimpinan diganti oleh Marwagi Hadi. Pemerintahannya dimulai dari tahun 1982 – 1992. Pada pemerintahan Marwagi Hadi, kondisi pemerintahan cukup stabil. Periode berikutnya adalah Amal Jayodo dari tahun 1992-2002.
Kepemimpinan Amal Jayodo tidak sampai selesai karena pada tahun 2000 meninggal dunia. Kemudian dilanjutkan oleh PJ. Dwi Bodro Irawan. Melanjutkan kepamimpinan Amal Jayodo hingga tahun 2002.
Kemudian pada tahun 2002 diselenggarakan Pemilihan Kepala Desa untuk Periode 2002-2008. Terpilihlah Sukardi sebagai Kepala Desa Duwet. Pada periode berikutnya, sukandi mencalonkan kembali Kepala Desa. Sukardi Berhasil terpilih kembali untuk periode 2008-2013.
Pada pemerintahan Sukardi sejak tahun 2002-2008 dan 2008-2013 kondisi Desa Duwet cukup stabil. Karena mempunyai Sukardi mempunyai Pengaruh yang cukup kuat di Masyarakat Desa Duwet. Periode berikutnya dari tahun 2013-2019, terpilih Nur Asiyati sebagai Kepala Desa Duwet. Dia adalah Perempuan pertama yang memimpin Desa Duwet.
Pada pemerintahannya, kondisi desa Duwet cukup stabil karena dengan sifat ke-ibu-annya, persoalan yang ada di desa mampu teratasi dengan baik. Pada tahun 2019 diselenggarakan Pemilihan Kepala Desa Duwet untuk periode 2020-2025 dan terpilih Adi Chandra Karisma sebagai Kepala Desa Duwet untuk memimpin Desa Duwet selama enam tahun kedepan.
Agenda Desa
Berita Desa